Sekitar sebulan yang lalu, aq bertemu dengan teman kuliahku dulu. Ternyata sudah hampir 4 tahun lamanya kami tidak pernah bertemu. Penampilan temanku itu masih sama seperti dahulu, bahkan dia juga cerita kalau pacarnya pun masih sama. Pacar yg sama, yang sudah setia bersamanya selama hampir 11 tahun ini (yang aq heran, kenapa ya dia belum juga menikah padahal secara materi pastinya dia sudah cukup mapan untuk membangun sebuah keluarga ??). Kembali ke topik semula (kalau Tukul bilangnya pasti “kembali ke laptop…!!” ^_^), temanku bilang kalau penampilanku sangat berubah …tidak seperti dulu. Karena yang berkata begitu adalah orang yg sudah hampir 4 tahun ini tidak pernah ketemu, ya wajar saja. Nah di lain waktu, aq bertemu dg teman yg sudah 8 bulan tidak pernah bertemu. How shock he was, when he saw me for the first time after our met about 8 months ago. 8 bulan yang lalu, saat aq dan dia masih sering bertemu (bahkan dulu kami sering pulang bersama), aq masih seorang dhila dengan segala kecuekannya, dengan segala kecentilannya, dengan segala kesemauan -gw-nya, dan dengan segala-segala hal yang berbeda dengan kondisi saat ini. Dia bertanya, “kemana dhila yg dulu dia kenal”. Dan lagi-lagi, yang paling jadi sorotannya adalah tampilan luarku yang baru. Tampilan luar yang bahkan 8 bulan yg lalu juga tidak pernah aq pikirkan dan bayangkan sebelumnya. Tapi bagaimana pun dia mengucapkan selamat bagiku. Dia bilang akhirnya aq mau “menjemput hidayah”.
Menjemput hidayah?? Ya dia benar dengan mengatakan hal itu. Untuk lebih mudah dalam memahaminya, mungkin disini kita dapat mengganti kata “menjemput” dengan “mencari”. Selama ini kebanyakan orang akan bilang atau mengklaim “belum dapat hidayah” sebagai pembenaran atas alasan mereka belum bisa berubah “ke arah yg lebih baik”, atau dalam bahasa yang sederhana, mereka belum siap untuk melakukan hal-hal tersebut dg alasan-alasan yang pastinya beragam. Tahukah mereka, hidayah tidak akan datang dg sendirinya kalau dari diri kita tdk ada kemauan untuk mencarinya??? (mungkin setiap orang yang membaca ini, akan mengeluarkan argumentasi yang beragam dalam mengomentari pendapatku, tapi berbeda pendapat itu sangat wajar koq..). Nah bagai mana pula kalau ada lagi orang yang bilang bahwa sebenarnya dia pun sudah berusaha mencari hidayah itu tapi belum juga didapatkannya?? Untuk menanggapi hal tersebut, aq hanya bisa bilang, …… coba lah bertanya ke diri kamu sendiri. Apakah kamu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memperoleh dan mencari hidayah itu. Hidayah itu tidak akan datang sekonyong-konyong dan secepat yang kamu inginkan.
Mari kita coba untuk membuat analoginya. Misalnya kamu dalam kondisi yang lemah, tidak memiliki tenaga karena dahaga yg teramat sangat. Di kejauhan, kamu lihat ada setitik air. Ya cuma setitik air. Tapi kamu yakin, walaupun hanya setitik, air itu dapat menghilangkan dahagamu. Namun untuk mendapatkannya tidak mudah. Kamu harus melewati banyak kendala dan hambatan berupa (misalnya..) melewati begitu tak terhingganya duri yg bertaburan di sepanjang jalan, tapi karena dahagamu yang begitu hebatnya kamu putuskan untuk melewati itu semua dengan segala konsekuensi dan penderitaan yang pastinya akan kamu alami, yaitu tertusuk duri. Mula-mula, kamu tertusuk satu duri. Rasanya teramat sakit. Kamu mulai berfikir untuk menyerah, tapi dahagamu semakin memuncak, sehingga kamu memutuskan untuk terus melangkah. Setelah berpuluh-puluh, mungkin hingga beribu-ribu duri kamu lewati, niscaya rasa sakit itu akan semakin berkurang, bahkan tidak lagi kamu rasakan. Semuanya ini bisa terjadi karena yang ada dipikiranmu adalah bahwa kamu harus bisa mendapatkannya. Mendapatkan setitik air itu. Dan akhirnya setelah berbagai penderitaan itu bisa kamu lewati, kamu pun mendapatkan air itu, dan hilanglah dahagamu. Muncul lah kepuasan yang tiada tara. Kamu tidak lagi merasakan dahaga, tenagamu pulih dan kamu dapat meneruskan semua aktifitasmu dengan baik, bahkan kamu bisa jauh lebih baik dari sebelumnya.
Nah coba kondisikan hal tersebut dalam upayamu mencari hidayah itu. Bila kamu masih juga sempat berputus asa dalam mencari hidayah yang tidak juga kunjung kau temukan itu, berarti azzam-mu belum kuat, belum kokoh. Bukankah ALLAH tidak menyukai orang yg berputus asa? Maka, terus lah untuk mencarinya, teruslah untuk menggapainya. Jalannya memang sukar, tidak mudah, akan banyak rintangannya, dan akan penuh dengan derita. Yakinlah ALLAH akan melihat kesungguhan hatimu. Betapa setiap langkah yang kau tempuh dalam mencari hidayah itu akan bernilai begitu luar biasanya di mata ALLAH. Betapa setiap penderitaan dan pengorbanan yang kamu lewati adalah bernilai ibadah. DIA akan terus mengucurkan rahmat, nikmat, dan pahala bagi setiap langkahmu itu. Betapa justru ALLAH tengah mengujimu, apakah kau akan mundur dalam usahamu itu ataukah justru sebaliknya, kau terus maju dalam menggapai hidayah tersebut. Percayalah di balik setiap ujian ALLAH ada hikmah yg tersembunyi, hikmah yang begitu indah bagimu, bagi kehidupanmu.
So….sudah siapkah kamu menjemput hidayah???
sumber : http://shinydays.blog.friendster.com/2007/03/menjemput-hidayah/




0 komentar:
Posting Komentar