Di sebuah kerajaan
hutan, hiduplah para hewan dengan aman dan damai. Pemimpin mereka adalah
Siga si Raja Hutan yang adil dan bijaksana. Wah, kebetulan hari ini
adalah ulang tahun Raja Siga. Semua warga hutan sedang mempersiapkan
pesta besar!
”Selamat pagi, Bu
Mia Kucing. Ini undangan untuk hadir di pesta ulang tahun Raja Siga.
Permisi.” Raku si Kura – Kura langsung melesat pergi secepat angin
setelah menyerahkan undangan ke Mia si Kucing. ”Uh Raku, belum sempat
aku ucapkan terima kasih, dia sudah pergi jauh. Memang cocok sekali Siga
si Raja Hutan menyuruh Raku untuk menyebar undangan. Larinya kan cepat
sekali.” Ujar Mia si Kucing.
Memang dahulu
kala, kura – kura itu larinya cepat sekali. Bahkan lebih cepat daripada
anjing dan kucing. Nah, ketika malam menjelang, seluruh penghuni hutan
mulai berdatangan ke rumah Siga si Raja Hutan. Mereka semua memakai
pakaian yang bagus dan mewah. ”Wah, pestanya meriah sekali ya, Jian
Anjing.” Mia si Kucing berkata kepada Jian si Anjing. ”Kau benar, Mia
Kucing. Semua tampak bergembira dan bersenang – senang.” jawab Jian si
Anjing.
”Eh, kau membawa
kado ya untuk Raja? Taruh saja di meja besar itu, semua kado disimpan di
situ.” tanya Mia si Kucing kepada Jian si Anjing. ”Oh begitu ya?
Baiklah, akan kusimpan dulu kado ini supaya tidak pecah. Aku akan
mempersembahkan mangkok kristal ini untuk raja.” Jian si Anjing berkata
sambil meletakkan kadonya di atas meja besar. ”Wah bagus sekali mangkok
itu, Jian! Raja pasti suka!” ujar Mia si Kucing.
Dari kejauhan
tampak Raku si Kura-Kura mendekat ke pesta. Tapi karena seharian ia
sibuk menyebarkan undangan, ia tak sempat lagi berganti pakaian.
Langsung saja ia datang ke pesta ulang tahun itu. ”Ooo ya ampun…semua
tamu berhias dengan sangat rapi. Semua terlihat rupawan. Sedangkan aku?
Aku tak memakai baju yang pantas, aku juga tak memakai perhiasan
apapun.” Raku si Kura – Kura berkata dalam hati.
Raku si kura-kura
merasa tak pantas datang ke pesta dengan penampilan seperti itu. Raku
langsung bersembunyi di balik meja besar tempat penyimpanan kado. Nah,
di sana ia melihat sebuah mangkok kristal yang bagus sekali. ”Wah,
mangkok ini bagus sekali. Bisa jadi perhiasan yang cocok untukku! Tapi
ini kan kado untuk Siga si Raja Hutan….ah tak apa lah, dia sudah dapat
begitu banyak kado. Dia kan tak boleh serakah..hehehehe.” Raku si Kura –
Kura berkata dengan nada licik.
Maka Raku si
kura-kura pun membawa mangkok kristal itu ke balik semak-semak. Ia
mengoleskan getah daun yang berwarna kehijauan ke atas mangkok itu,
kemudian mengikat mangkok itu ke punggungnya. ”Ah, mangkok ini lebih
cantik dalam warna hijau. Dan akar-akar kayu ini cukuplah kulilitkan di
tubuhku supaya mangkok ini tak jatuh dari punggungku.” ujar Raku si Kura
– Kura sambil mengagumi dirinya.
Maka Raku
berjalan dengan gagah ke tengah pesta. Dan benar saja, semua mata
melihat kagum padanya. ”Waaah Raku gagah sekali dengan perhiasannya
itu..kemilaunya seperti zamrud! Indah sekali kan, Jian?” Mia si Kucing
berkata sambil terus memandangi Raku si Kura – Kura. ”Iya..indah sekali
tapi aku yakin sekali itu adalah mangkok kristalku..ah aku harus
langsung bertanya pada Raku.” Jian si Anjing berkata dalam hati dan
akhirnya berkata kepada Raku si Kura – Kura, ” Hei Raku! Darimana kau
dapatkan perhiasan itu?”
”Oh ini memang
milikku. Aku membawanya dari rumah.” kata Raku si Kura – Kura. ”Ah kau
bohong! Aku mengenali mangkok itu, itu milikku yang akan kuberikan pada
Siga si Raja Hutan!” Jian si Anjing berteriak ke Raku si Kura – Kura.
Akhirnya Siga si
Raja Hutan pun datang menghampiri mereka dan berkata, ”Ada apa ini?
Siapa yang berani membuat keributan di pestaku?”, Jian si Anjing
menjelaskan ke Siga si Raja Hutan, ” Maafkan hamba, baginda. Tapi Raku
si kura-kura telah mencuri mangkok kristal yang akan kuhadiahkan
padamu.”
”Benarkan itu
Raku?” Siga si Raja Hutan bertanya langsung ke Raku si Kura – Kura.
”Eh…hmmm..eeeeh…benar Yang Mulia…aku malu karena tidak punya perhiasan
atau baju yang indah untuk datang ke pestamu…maafkan aku.” dengan nada
gugup Raku si Kura – Kura akhirnya mengaku telah mengambil kado Siga si
Raja Singa.
”Hhh…baiklah…Jian,
aku tahu mangkok itu akan kau hadiahkan padaku, aku menghargai itu,
tapi tampaknya memang lebih cocok untuk Raku..” dengan bijak Siga si
Raja Hutan berkata. Raku si Kura – Kura mengucapkan terima kasih kepada
Siga si Raja Hutan, ” Oh terima kasih, Yang Mulia, terima kasih.”
”Tapi sebagai
gantinya, kemampuan lari cepatmu akan kuberikan pada Jian Anjing.
Bagaimana? Adil, bukan?” Siga si Raja Hutan akhirnya berkata.
Nah, sejak saat itu
Raku kura-kura dan keturunannya memiliki mangkuk keras di punggungnya
dan tetap berjalan lambat. Sementara itu, bangsa anjing sampai kini bisa
berlari cepat. Dan terbiasa mengejar pencuri seperti Jian, nenek moyang
mereka.



