Sabtu, 10 September 2011


Bukan hal yang mudah untuk menjadikan keikhlasan sebagai niat disetiap apa yang ingin kita lakukan lebih-lebih jika itu berkaitan dengan ibadah, keikhlasan karena Allah SWT.


Kita mampu untuk mengatakan “ ya aku ikhlas” namun belum tentu kata itu mengalir dari lubuk hati kita yang paling dalam.


Mudah bagiku mungkin juga mudah bagimu berkorban sesuatu demi orang yang kita cintai dan mencintai kita…orang tua, suami/ istri, saudara, dan orang lain. Mereka yang banyak membantu kita walau tidak setiap waktu. Sampai-sampai kita enggan jikalau mereka terluka hatinya jika kita tidak memperhatikannya dan itu butuh keikhlasan.


Mereka adalah makhluk Allah dan pasti suatu saat akan kembali padanya. Lalu kepada siapa lagi kita akan berkorban.


Bagaimana jika dalam pikiran kita terlintas, apakah aku sudah berkorban untuk Allah? Bagaimana dengan ibadahku selama ini, adakah keikhlasan dalam hati untuk Nya? Pernahkah aku memperhatikan Nya di setiap langkahku, kehidupanku?


Jelas bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita. Memberikan kenikmatan yang tak mungkin bisa kita hitung dari sejak Allah meniupkan roh kita saat dalam kandungan hingga saat ini bahkan saat nanti.


Aku harus belajar untuk menjadikan keikhlasan sebagai niatku untuk menjalankan rutinitas hidupku. Aku perlu belajar kepada orang-orang yang berhasil melakukannya. Kepada siapakah gerangan???

Cukuplah Allah SWT tempat kembali kita meminta petunjuk dan akan butuh waktu yang tidak sedikit.


Tak terasa kita telah sampai di hari kemenangan, seluruh sobat blogger pasti banyak yang menantikannya. Akan tetapi sebelum kita merayakan hari kemenangan ini dengan penuh suka cita, Saya memohon maaf sebelumnya kalau selama bergaul dengan sobat blogger di dunia maya sering berbuat khilaf, dan salah baik dalam berargumen dalam komentar maupun dalam hal yang lainnya. Semoga di hari kemenangan ini kita dapat kembali bersih lagi.

Akhir kata, saya ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Baca Selengkapnya

Selasa, 02 Agustus 2011

Biji Sesawi Pengusir Kesedihan

Ada sebuah cerita Cina kuno tentang wanita yang begitu sedih karena anaknya meninggal dunia. Dalam dukanya, dia mendatang seorang bijaksana, “Doa seperti apa, adakah yang bisa dilakukan untuk membuat anak saya hidup kembali?”


Alih-alih mengusirnya atau memberinya pengertian, orang tersebut berkata kepada wanita itu, “Mintalah biji sesawi dari sebuah rumah yang belum pernah merasakan kesedihan. Kita akan gunakannya untuk mengusir kesedihan itu dari kehidupanmu.”


Mendengar permintaan orang bijak itu, wanita itu segera pergi mencari biji sesawi ajaib itu.


Yang pertama kali di kunjunginya adalah sebuah rumah yang indah, ia mengetuk pintu itu dan berkata, “Saya mencari sebuah rumahyang belum pernah mengalami kesedihan. Apakah rumah ini seperti itu? Tolonglah, hal ini sangat penting bagi saya.”


Mereka berkata, “Anda pasti datang ketempat yang salah,” lalu pemilik
rumah itu mulai menjelaskan semua hal tragis yag baru-baru ini mereka alami.


Wanita itu berkata kepada dirinya sendiri, “Siapakah yang dapat membantu
orang malang ini, orang yang mengalami kemalangan seperti saya. Sedangkan saya sendiri juga memiliki kesusahan sendiri.”


Wanita itu kemudian tinggal sebentar untuk menghibur si pemilik rumah yang indah itu, lalu melanjutkan pencariannya. Dari satu rumah ke rumah yang lainnya, ia selalu menemui kesedihan. Mulai dari gubuk-gubung reyot hingga rumah yang indah, semuanya memiliki kisah kemalangannya sendiri-sendiri. Setiap kali ia mengetuk pintu dan mengdengar cerita sedih, ia tidak bisa tidak memberikan penghiburan dan akhirnya lupa untuk mencari biji sesawi ajaibnya. Apa yang ia lakukan dari satu rumah ke rumahyang lain, lambat laun mengusir kesedihannya keluar dari hidupnya.


Tidak seorangpun yang tidak pernah mengalami kemalangan, kesedihan dan duka. Untuk itu
sangat tidak tepat jika kita berpikir bahwa diri kita adalah orang yang paling malang di dunia. Bangkitlah dari kesedihan Anda, dan mulailah lihat ke sekeliling Anda. Berikan bantuan, nasihat dan penghiburan kepada orang lain yang juga memiliki kesedihan dan kemalangan. Dengan cara ini, Anda akan menyembuhkan kesedihan Anda.


sumber : http://gudangnyacerita.blogspot.com/2011/03/biji-sesawi-pengusir-kesedihan.html

Baca Selengkapnya

Senin, 25 Juli 2011

Seberapa Luas Hatimu?


Di sebuah dusun yang sunyi , tenang dan damai, ada seorang kakek bijak mendiami dusun tersebut, tak ada yang menemani sang kakek tinggal, ia hanya hidup sebatang kara, namun ia tetap men syukuri kehidupannya , maka tak heran beberapa peduduk dusun itu menjuluki si kakek itu dengan julukan si kakek bijak, karena petuahnya banyak mengandung arti bagaimana harus bersikap dan berprilaku dalam kehidupan ini.



Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda dusun yang sedang dirundung banyak masalah, langkahnya gontai, raut mukanya ruwet, seakan harapan tak lagi mau berpihak lagi kepadanya, tatap mata kosong, sehingga guratan secercah harapan tak tampak sedikitpun di wajahnya.

Sosok itu mengejutkan si kakek bijak yang sendari tadi, asyik dengan menganyam bambu untuk dibuat peralatan rumah tangga, karena dengan keahliannya itu ia tetap bertahan untuk hidup, hasil kerja dan jerih payahnya itu ia jual ke pasar dusun terdekat.


Tanpa membuang waktu pemuda itu menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi, karena ia percaya si kakek bijak pasti akan
memberikan jalan keluarnya dari permasalahannya itu. Dan dengan bijaksana si kakek mendengarkan curahan hati pemuda itu dengan seksama.


Setelah selesai si pemuda itu menceritakan kesukarannya, si kakek bijak hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu ia berjalan menuju kedapur yang tak jauh dari tempat duduknya itu, ia mengambil segenggam
garam dan segelas air. “anak muda cobalah kau taburkan garam ini kedalam segelas air yang aku bawa ini dan aduklah air dan garam ini, “ pinta si kakek bijak , tanpa pikir panjang lagi si pemuda itu menaburkannya garam kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan-lahan. “Sudah kek ! , aku sudah aduk ratasekali garam dengan air ini ujar si pemuda itu, “ehmm….,cobalah kau minum larutan itu dan katakan bagaimana rasanya”, ujar kakek bijak itu.


“Pahit..,
Asin tak karuan rasanya, kek …”, jawab pemuda itu, sambil ia meludah kesamping tak kuasa menahan rasa yang tak enak dari larutan itu.


Kakek bijak sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak si pemuda itu berjalan ke tepi sebuah telaga yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka di tepi telaga yang tenang.



Kakek itu kembali menaburkan segenggam
garam ke dalam telaga dan dengan sepotong kayu dari rerutuhan pohon, ia membuat gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air di telaga. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”, perintah kakek bijak. Saat pemuda itu selesai meneguk air telaga, si kakek bijak, kembali bertanya, “Bagaimana rasanya,?”


“Segar dan nyaman sekali di tenggorokan ku ini ”, sahut pemuda itu. “Apakah kamu merasakan
garam di dalam air itu?”, Tanya Kakek bijak lagi. “Tidak”, jawab si pemuda.


Dengan kasih sayang dan bijaksannya, kakek bijak menepuk-nepuk punggung pemuda itu, ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda !, dengarlah, pahitnya kehidupan itu adalah layaknya segenggam
garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap selalu sama.”


“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”



Kakek bijak itu kembali memberi nasehat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”



Akhirnya setelah mendapat petuah dari kakek bijak, si pemuda menyadari kenyataan kehidupan yang memang penuh dengan
jalanyang berliku-liku.
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu, belajar memaknai kehidupan yang ada kala kita di atas dan adakalanya di bawah bagai roda pedati.
Baca Selengkapnya

Terima Kasih Tuhan, Ternyata Saya Miskin

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.


Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.


'Bagaimana perjalanan kali ini?'


'Wah, sangat luar biasa Ayah.' sahut anaknya.



'Kau lihat 'kan betapa manusia bisa sangat miskin.' kata ayahnya.



'Oh iya.' kata anaknya.



'Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?' tanya ayahnya.



Kemudian si anak menjawab,



'Saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.



Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.



Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.



Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.



Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.



Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.



Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.



Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.'



Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.



Kemudian sang anak menambahkan, 'Terima kasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita.'



***



Kadang-kadang kita sering melupakan apa yang telah kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini tergantung dari cara pandang seseorang. Mungkin akan lebih baik jika kita bersyukur kepada Allah sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta apa yang belum kita miliki. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur.
Baca Selengkapnya

Ketika Dua Hati Menyatu

Suatu hari, sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"


Seorang murid, setelah berpikir cukup lama, mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat itu ia telah kehilangan kesabaran, makanya ia berteriak."


"Tapi...sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus ?"


Hampir semua murid
memberikan sejumlah alasan yang dikira benar, menurut pertimbangan mereka. Namun, tak satu pun jawaban memuaskan.


Sang
guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat." Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.


Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya, jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."



"Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua
orang saling jatuh cinta ? Mereka tak hanya tidak berteriak, tetapi ketika mereka berbicara, suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.


Mereka tampak berpikir amat dalam, tetapi tak satu pun beranimemberikan
jawaban.


"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Akhirnya, sepatah kata pun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."



http://gudangnyacerita.blogspot.com/2011/05/anugerah-dalam-setiap-langkah-kehidupan.html

Baca Selengkapnya

Rabu, 22 Juni 2011

Keikhlasan

Bukan hal yang mudah untuk menjadikan keikhlasan sebagai niat disetiap apa yang ingin kita lakukan lebih-lebih jika itu berkaitan dengan ibadah, keikhlasan karena Allah SWT. Kita mampu untuk mengatakan “ ya aku ikhlas” namun belum tentu kata itu mengalir dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Mudah bagiku mungkin juga mudah bagimu berkorban sesuatu demi orang yang kita cintai dan mencintai kita…orang tua, suami/ istri, saudara, dan orang lain. Mereka yang banyak membantu kita walau tidak setiap waktu. Sampai-sampai kita enggan jikalau mereka terluka hatinya jika kita tidak memperhatikannya dan itu butuh keikhlasan.


Mereka adalah makhluk Allah dan pasti suatu saat akan kembali padanya. Lalu kepada siapa lagi kita akan berkorban.


Bagaimana jika dalam pikiran kita terlintas, apakah aku sudah berkorban untuk Allah? Bagaimana dengan ibadahku selama ini, adakah keikhlasan dalam hati untuk Nya? Pernahkah aku memperhatikan Nya di setiap langkahku, kehidupanku?


Jelas bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita. Memberikan kenikmatan yang tak mungkin bisa kita hitung dari sejak Allah meniupkan roh kita saat dalam kandungan hingga saat ini bahkan saat nanti.


Aku harus belajar untuk menjadikan keikhlasan sebagai niatku untuk menjalankan rutinitas hidupku. Aku perlu belajar kepada orang-orang yang berhasil melakukannya. Kepada siapakah gerangan???
Cukuplah Allah SWT tempat kembali kita meminta petunjuk dan akan butuh waktu yang tidak sedikit.


Bantu aku juga teman…saudaraku sesama makhluk Allah SWT.


sumber : http://senyuman.wordpress.com/2007/11/23/keikhlasan/#more-49

Baca Selengkapnya

Rahasia Ikhlas

Ada seorang teman yang bercerita pada saya tentang kejadian aneh beberapa tahun lalu di desanya. Katanya didesanya pernah ada proyek pelebaran jalan. Saat beberapa alat berat terpaksa menggusur makam, disitu ada sebuah makam yang mayatnya masih utuh dan tidak busuk, padahal makamnya sudah puluhan tahun. Setelah dicari tahu oleh penduduk setempat siapa identitas mayat tersebut, ternyata diketahui bahwa mayat tersebut adalah mayat seorang dukun bayi. Orang- orang setempat yang mengenal dukun bayi itu menceritakan bahwa dukun bayi itu adalah dukun terbaik didesanya, ia tak pernah meminta bayaran jika menolong orang melahirkan . Dukun itu bekerja tanpa pamrih, niatnya hanya menolong orang, meringankan beban orang lain dengan ikhlas ” Lillahi Ta’ala “, karena Allah , karena panggilan kemanusiaan.


“Maka tak heran jika Tuhan membalasnya dengan upah yang lebih baik, dukun itu mayatnya tidak busuk dan bisa jadi ia masuk syurga , ” Kata teman saya.


Keikhlasan memang masalah niat. Dalam agama Islam diajarkan bahwa segala ibadah yang dilakukan dengan tidak ikhlas atau ada tendensi lain, misal karena berharap pujian manusia, karena uang, karena segala hal selain Allah , maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah. Allah tidak akan mencatatnya sebagai amal ibadah dan tidak ada upah pahalanya. Orang yang tidak ikhlas mungkin saja sukses karena mendapatkan apa yang diinginkan , misal menjadi kaya atau terkenal. Namun ia tidak mendapat upah pahala, bahkan ia akan mendapat murka tuhan jika dengan tujuannya itu ia akan merugikan manusia.


Dizaman sekarang ini semakin banyak manusia yang tidak memahami akan hal ini. Semua selalu dikaitkan dengan tendensi duniawi, semua bergerak atas dasar uang. Seorang dokter adalah ” dukun masa kini ” yang seharusnya profesi ini berlandaskan atas tujuan kemanusiaan, bukan semata- mata uang yang akhirnya menafikkan sisi- sisi kemanusiaan. Begitu pula dengan profesi- profesi lain, sebagai politikus atau pedagang, seharusnya semua didasarkan pada niat yang ikhlas ” Lillahi ta’ala “, sebagai panggilan ibadah , wujud pengabdian kita pada Tuhan yang maha Esa.


Hanya dengan niat ikhlas itulah Tuhan akan mencatatnya sebagai ibadah. Tanpa niat ikhlas maka kita tidak akan mendapatkan apa- apa kecuali materi yang terlalu sedikit.


Dekadensi kesadaran inilah yang kemudian membuahkan kondisi sosial yang saat ini semakin buruk . Saat ini semakin langka kita temui manusia yang memiliki keikhlasan, semua penuh dengan tendensi. Akhirnya rasa cinta dan kasih sayang antar sesama merosot tajam yang menciptakan dunia penuh bahaya dan kejam.


Seorang yang ikhlas bukanlah seorang yang bodoh. Justru ia memilih hasil yang lebih besar, ia melibatkan etika dan hatinya dalam berbuat. Ia memfungsikan sisi- sisi kemanusiaannya.


Seorang yang ikhlas Tuhan pun meridhoi, alam pun menghormati, bahkan bumi pun memuliakannya sampai mayatnya pun tidak dibuatnya busuk. Semua menjadi diberkahi.


Semoga kita semua bisa menjadi manusia- manusia yang ikhlas , karena tidak ada kekhawatiran bagi orang yang ikhlas. Mereka mendapat upah yang sangat besar dari Tuhannya.


Summber : http://unik.kompasiana.com/2011/06/09/rahasia-ikhlas/

Baca Selengkapnya

Selasa, 07 Juni 2011

Belajar Hidup dari Orangutan

Konon menurut para ilmuwan yang mendalami masalah permonyetan (primatologi), manusia itu genetiknya berdekatan. Malah ada yang bilang orangutan, gorilla atau simpanse, lebih dari 90 % sama dengan manusia. Oleh karena itu, percobaan berbagai jenis obat, sebelum dikonsumsi oleh manusia, dicobakan dulu ke monyet atau kera ini.

Sebelum diujicobakan ke bangsa primata, berbagai jenis obat sering diujicobakan ke tikus atau kelinci. Maka ada istilah "kelinci percobaan". Namun, berbagai jenis obat yang dicobakan ke tikus dan kelinci, mempunyai dampak yang tidak menggembirakan. Misalnya obat mual bagi wanita hamil, yang dicobakan ke kelinci, kemudian dikonsumsi oleh manusia (ibu hamil). dampaknya adalah cacat pada jabang bayi. Namun kini obat-obatan itu sudah aman, karena (konon) aman bagi "primata " percobaan.


Adalah sebuah pengalaman yang menarik, ketika saya melakukan penelitian "kera merah" ini di hutan Kalimantan Tengah. Saya mencoba, berbagai jenis makanan yang dimakan orangutan, baik daun, bunga, buah, kambium (kulit bagian dalam). umbut, jamur, kepompong dsb. Namun ada jenis tertentu yang saya sudah paham, yaitu Rangas. Jangankan memakan, kecipratan getahnya saja, bagai kena luka bakar.


Pada perang dunia ke II, monyet dijadikan "guru" bagi para serdadu Amerika. Misalnya (menurut catatan), serdadu yang terlibat perang di Pasifik, membawa beberapa ekor monyet (Monyet ekor panjang), dari Phillipina, dibawa ke Papua. Serdadu melihat jenis-jenis yang dimakan monyet, dan menirunya. Nah, kini monyet peninggalam serdadu itu, membawa masalah di Papua (termasuk Papua Indonesia), yang kini menjadi hama dan masalah bagi pertanian.


Kalau buah, rata-rata bisa dimakan, ada yang manis, sepat, asem, namun rupanya orangutan menyukai yang manis, seperti rambutan, duku atau durian. Bila pas musim durian (rupanya beberapa jenis binatang juga suka durian), maka kita harus hati-hati di seputaran pohon durian yang sedang berbuah. Apalagi bila sudah mulai masak dan jatuh. Di lantai hutan ratusan durian yang berserakan. Namun di sana juga berbagai jenis binatang ada. Mulai dari rusa, babi, orangutan ataupun beruang. Konon bila di Sumatera, lebih lengkap lagi binatangnya, ditambah harimau dan gajah. Plus manusia yang memakan segalanya, dan manusia merupakan "pesaing" utama bila musim durian. Berbagai jenis durian ada, mulai yang manis, sedikit pahit, gurih ataupun "hambar" tak berasa. Durinyapun ada yang panjang sekitar 5 cm lebih, atap yang pendek sesuai dengan yang biasa kita lihat.


Ada juga buah yang kulitnya sangat gatal sekali, namun bijinya gurih seperti kacang. Proses orangutan untuk mendapatkan biji tersebut, melalui proses, dengan meremas, atau menggosok gosokan di dahan, agar duri yang gatal terkelupas. Bukan main memang, orangutan yang hidup liar itu sudah memiliki cara untuk mendapatkan sesuatu.


Tapi ketika makan biji buah liar itu, saya sempat tertipu, hingga mual, muntah dan kepala pening sejenak. Ceritanya, pagi itu orangutan asyik makan, buahnya panjang seperti kacang panjang, tetapi daging buahnya warna kuning menawan. Saya langsung saja ambil dan makan. Rasanya memang manis, tetapi beberapa saat kemudian, mual dan muntah. Rupanya yang dimakan bukan daging buah tetapi biji, saya ketahui setelah aku amati bagian mana yang dimakan. Tertipu.


Kulit pohon, juga sangat disukai, khususnya kulit pohon kampas. Pohonya besar. Kadang orangutan jantan seharian betah, mengelupas dan memakan kulit bagian dalam. Memang rasanya manis, banyak airnya. Dan tentu banyak energi yang dikandung, karena merupakan air yang berasal dari tanah dan mengalir ke atas untuk dirubah menjadi karbohidrat. Biasanya pada musim kemarau ketika buah-buahan tidak banyak, atau daun muda belum berkuncup atau bunya belum mekar, orangutan sering memakan kulit poohon ini.


Ada buah yang juga disukai orangutan karena "gurih" rasanya, yaitu buah yang memiliki kulit yang keras. Sayapun mencobanya, tapi kerasnya kulit buah. Saya harus menggunakan parang atau batu atau palu untuk memecahnya. tetapi orangutan hanya dengan menggigit. Luar biasa kerasnya.


Ada sebuah pertanyaan bagi saya, ketika meneliti orangutan yang usai melahirkan. Sang Bunda hanya diam di sarang, sesekali jalan, hanya untuk mendapatkan daun tertentu. Konon daun itu juga digunakan orang pedalaman, untuk melancarkan atau mengeluarkan atau membersihkan rahim, bagi orang yang usai melahirkan. Memang perlu melakukan penelitian yang mendalam untuk beberapa jenis tumbuhan yang dimakan berbgai jenis satwa, khususnya primata.


Tak hanya daun, biji, buah, kulit dan bunga yang dikonsumsi kerah besar ini, tetapi juga jelutung. Jelutung adalah karet alam yang tumbuh di rawa-rawa. Getah karet alam ini. konon menjadi bahan dasar pembuatan permen karet. Orangutanpun, suka "mencicipi" getah yang manis itu.


Menurut Prof Birute Galdikas, peneliti orangutan sejak tahun 1971 ini, bahwa orangutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam regenerasi hutan, termasuk penyebar biji-bijian. Ada sekitar 40 jenis tumbuhan yang disebarkan bijinya oleh orangutan.


Masih banyak misteri flora di alam, yang belum semua diungkap, untuk mencukupi kebutuhan manusia, tak hanya obat-obatan tetapi juga sumber pangan yang diperlukan. Kehilangan hutan, sama halnya dengan hilangnya sumber daya alam hayati yang belum dimanfaatkan secara optimal. Masih banyak jenis buah yang belum dibudi dayakan, atau tumbuhan lain yang bermanfaat.


Semoga lestari alam ini, bagi kehidupan flora dan fauna yang mempunyai manfaat bagi kehidupan kini dan yang akan datang.

Baca Selengkapnya

Kesetiaan Kunci Keluarga Bahagia

Rumah tangga ada yang berlangsung lama, masing-masing setia kepada perkawinannya hingga kakek nenek, ada yang ketika nikah, pernikahannya dilaksanakan dengan meriah, banyak tamu, banyak ucapan selamat, banyak kado, tetapi, bahtera baru sebentar berlayar, ombak demi ombak datang menghantamnya. Meski sarana materi boleh jadi tercukupi, tetapi di sana tidak lagi ada kelembutan, kemesraan dan kesetiaan. Agenda harian rumah tangga berubah menjadi pertengkaran, kebencian dan makian. Seorang istri karena setiap hari hatinya terluka karena perbuatan suami mengatakan, 'Saya setiap kali mendengar suara mobil suami datang, saya depresi dan tangan saya gemetar. Saya lebih senang bila suami tidak pulang.' Itulah gambaran cinta dan kasih sayang yang sudah tidak terawat lagi dalam rumah tangga.


Keanggunan hidup berumah tangga sangat bergantung kepada faktor kesetiaan di antara mereka. Ada hadis Nabi yang menjelaskan bahwa rumah tangga yang kesetiaannya hanya diikat oleh faktor harta benda, tunggulah kehancuran, karena tabiat harta memang curang. Ia hanya mau menemani dalam keadaan suka, sementara dalam keadaan duka harta justru sering menjadi pemicu permusuhan. Sebuah ungkapan menyebutkan, 'ada uang, abangku sayang, tak ada uang, abang kutendang. Ada uang berarti abang saya, tidak ada uang abang payah.


Ikatan keluarga juga penting sebagai perekat kesetiaan, tetapi tabiat manusia dalam ikatan kekeluargaan bersifat angin-anginan. Pameo berbunyi, famili itu jika berada di tempat yang jauh baunya wangi, tetapi jika berdekatan, apalagi serumah mudah berubah menjadi bau busuk. Konflik antar keluarga sering lebih sulit didamaikan dibanding konflik antar bukan keluarga.


Perekat kesetiaan yang kekal abadi adalah ikatan amal saleh, ikatan kebaikan. Suami isteri yang diikat oleh nilai-nilai kesucian, kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah yang mengokohkan keluarga, tahan godaan, tahan banting, tahan ombak. Di kala suka mereka bersyukur, di kala duka mereka bersabar. Sepanjang zaman, mereka tetap kuat, tabah dan indah dan bahkan kebahagiaan dan keindahan masih tetap terasa meski yang satu sudah mendahului berada di alam lain. Pasangan yang demikianlah yang akan dapat menjadi pasangan bukan hanya seumur hidup, tetapi pasangan dunia akhirat.

Wassalam,

Baca Selengkapnya

Belajarlah, Mengapa Pria itu Brengesek

Mari kita membahas topik yang menarik ini. Ini tema yang tepat untuk ratusan wanita patah hati di luar sana. Aha! Bukan maksud menyinggung siapapun. Karna saya yakin setiap wanita pasti pernah merasakan patah hati. And I think it's normal.


Tapi ada sedikit yang berbeda di sini. Ini tentang sudut positifnya pria brengsek. Sekumpulan makhluk hidup yang sering menjadi bahan caci maki para wanita yang menamakan dirinya kumpulan-wanita-keren-patah-hati :))) Merekalah si pria brengsek yang selalu jadi topik hangat pembicaraan ratusan wanita-wanita malang yang merasa senasib sepenanggungan. Merekalah si pria brengsek yang selalu menghiasi dinding hati para wanita galau. Mereka jugalah yang selalu berhasil menghadiahi wanita air mata.


Saya sebagai wanita tulen, mewakili para wanita patah hati di dunia juga sama-sama pernah merasakan rasanya bertemu pria brengsek. Bagaimana proses jatuhnya air mata saat bertemu pria brengsek yang punya senyum sejuta dewa. Bagaimana tahap bergantung pada lagu-lagu cinta mehe-mehe. Dan lelahnya menunggu si handphone menampilkan namanya di layar. Tapi nama itu tak kunjung muncul.


Baiklah. kita akan membahas lagi tentang gak enaknya patah hati kapan-kapan. back to topic.


Banyak wanita yang gak terima kenapa harus dipertemukan dengan pria-pria brengsek itu. Banyak dari kita yang menyesal kenapa harus jatuh cinta pada orang yang salah secara berulang dan berkala. Banyak juga dari kita yang tak pernah berhenti menceritakan masa lalunya yang buruk dengan si pria-pria ini.Tapi kadang kita *para wanita malang* tak menyadari ALASAN. Kita tak pernah mau menerima kenyataan pahit, keadaan menyakitkan, dan orang yang ternyata tidak tepat untuk menjadi pasangan kita. Terdengar klise, tapi ini juga point penting.


Mungkin memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk menyalahkan orang lain lebih dulu sebelum bercermin akan kesalahan diri sendiri (begitupun saya) Dan hanya sedikit wanita yang mau bercermin lalu melihat ke dalam diri sendiri.


Ada seorang teman yang saya kenal yang selalu menangis dan mengeluh akan cinta. Dia tak pernah punya hubungan lebih dari 1 / 2 bulan. Bukannya saya membela pria-pria brengsek yang ia temui. Karna saya pun ikut mengakui. Tapi saya lebih melihat ke arah teman saya yang merasa dirinya sengsara ini. Ia tak pernah menyadari bahwa ia gampang terlena, mudah jatuh cinta, dan terlalu mudah untuk dibodohi.


Saya sadar bahwa cinta itu suka parkir di sembarang tempat. Tapi, oh. c'mmon dear. Walaupun kadar perasaan perempuan masih lebih besar daripada kadar logikanya, tapi tetep kita harus memperhatikan cara kerja otak kita dalam menangkap sinyal cinta. Cinta gak punya ukuran tapi bukan berarti gak bisa dikurangi porsinya.


Mungkin banyak juga wanita yang pintar dan tidak cukup bodoh u/ memilih pria tapi masih juga salah dalam memilih. Tapi coba kita lihat pada beberapa wanita yang dibrengseki karna ulahnya sendiri. Karna ia memang tidak bisa menjadi seseorang yang layak dicintai. Karna ia mudah dibodohi.


Ada beberapa alasan yang *setahu saya* selalu dijadikan alasan pria-pria brengsek ini


1. Tidak ingin menyakiti lebih jauh, jadi lebih baik pergi begitu saja
2. Sadar si wanita gampang dibodohi jadi pada akhirnya ia menjadikannya permainan
3. Emang gak pernah sayang


Walaupun alasan-alasan tadi tetep terbukti nggak baik dan salah, tapi ... *bukannya saya membela para pria brengsek itu* alasan tadi lumayan positif. Coba pikirkan baik-baik, bahwa setiap orang emang butuh alasan logis. Dan gak semua cowo brengsek gak pake hati juga.


Ini realita, kalo kita dipertemukan cowo brengsek ya harus nerima kenyataan. Toh pada akhirnya kita punya pelajaran *sepedih apapun itu*.Jujurlah pada diri sendiri bahwa kita juga punya andil kenapa si pria tiba-tiba pergi dan menyakiti hatimu. dan jadilah wanita yang layak dicintai. Karna setiap orang pasti akan pergi ke tempat yang menurutnya jauh lebih nyaman. So' dia akan selalu berada di sampingmu selama dia nyaman.

sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=18966
Baca Selengkapnya