Mari kita membahas topik yang menarik ini. Ini tema yang tepat untuk ratusan wanita patah hati di luar sana. Aha! Bukan maksud menyinggung siapapun. Karna saya yakin setiap wanita pasti pernah merasakan patah hati. And I think it's normal.
Tapi ada sedikit yang berbeda di sini. Ini tentang sudut positifnya pria brengsek. Sekumpulan makhluk hidup yang sering menjadi bahan caci maki para wanita yang menamakan dirinya kumpulan-wanita-keren-patah-hati :))) Merekalah si pria brengsek yang selalu jadi topik hangat pembicaraan ratusan wanita-wanita malang yang merasa senasib sepenanggungan. Merekalah si pria brengsek yang selalu menghiasi dinding hati para wanita galau. Mereka jugalah yang selalu berhasil menghadiahi wanita air mata.
Saya sebagai wanita tulen, mewakili para wanita patah hati di dunia juga sama-sama pernah merasakan rasanya bertemu pria brengsek. Bagaimana proses jatuhnya air mata saat bertemu pria brengsek yang punya senyum sejuta dewa. Bagaimana tahap bergantung pada lagu-lagu cinta mehe-mehe. Dan lelahnya menunggu si handphone menampilkan namanya di layar. Tapi nama itu tak kunjung muncul.
Baiklah. kita akan membahas lagi tentang gak enaknya patah hati kapan-kapan. back to topic.
Banyak wanita yang gak terima kenapa harus dipertemukan dengan pria-pria brengsek itu. Banyak dari kita yang menyesal kenapa harus jatuh cinta pada orang yang salah secara berulang dan berkala. Banyak juga dari kita yang tak pernah berhenti menceritakan masa lalunya yang buruk dengan si pria-pria ini.Tapi kadang kita *para wanita malang* tak menyadari ALASAN. Kita tak pernah mau menerima kenyataan pahit, keadaan menyakitkan, dan orang yang ternyata tidak tepat untuk menjadi pasangan kita. Terdengar klise, tapi ini juga point penting.
Mungkin memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk menyalahkan orang lain lebih dulu sebelum bercermin akan kesalahan diri sendiri (begitupun saya) Dan hanya sedikit wanita yang mau bercermin lalu melihat ke dalam diri sendiri.
Ada seorang teman yang saya kenal yang selalu menangis dan mengeluh akan cinta. Dia tak pernah punya hubungan lebih dari 1 / 2 bulan. Bukannya saya membela pria-pria brengsek yang ia temui. Karna saya pun ikut mengakui. Tapi saya lebih melihat ke arah teman saya yang merasa dirinya sengsara ini. Ia tak pernah menyadari bahwa ia gampang terlena, mudah jatuh cinta, dan terlalu mudah untuk dibodohi.
Saya sadar bahwa cinta itu suka parkir di sembarang tempat. Tapi, oh. c'mmon dear. Walaupun kadar perasaan perempuan masih lebih besar daripada kadar logikanya, tapi tetep kita harus memperhatikan cara kerja otak kita dalam menangkap sinyal cinta. Cinta gak punya ukuran tapi bukan berarti gak bisa dikurangi porsinya.
Mungkin banyak juga wanita yang pintar dan tidak cukup bodoh u/ memilih pria tapi masih juga salah dalam memilih. Tapi coba kita lihat pada beberapa wanita yang dibrengseki karna ulahnya sendiri. Karna ia memang tidak bisa menjadi seseorang yang layak dicintai. Karna ia mudah dibodohi.
Ada beberapa alasan yang *setahu saya* selalu dijadikan alasan pria-pria brengsek ini
1. Tidak ingin menyakiti lebih jauh, jadi lebih baik pergi begitu saja
2. Sadar si wanita gampang dibodohi jadi pada akhirnya ia menjadikannya permainan
3. Emang gak pernah sayang
Walaupun alasan-alasan tadi tetep terbukti nggak baik dan salah, tapi ... *bukannya saya membela para pria brengsek itu* alasan tadi lumayan positif. Coba pikirkan baik-baik, bahwa setiap orang emang butuh alasan logis. Dan gak semua cowo brengsek gak pake hati juga.
Ini realita, kalo kita dipertemukan cowo brengsek ya harus nerima kenyataan. Toh pada akhirnya kita punya pelajaran *sepedih apapun itu*.Jujurlah pada diri sendiri bahwa kita juga punya andil kenapa si pria tiba-tiba pergi dan menyakiti hatimu. dan jadilah wanita yang layak dicintai. Karna setiap orang pasti akan pergi ke tempat yang menurutnya jauh lebih nyaman. So' dia akan selalu berada di sampingmu selama dia nyaman.
sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=18966
sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=18966




0 komentar:
Posting Komentar